Minggu, 14 Oktober 2012

Permasalahan Sampah di Samarinda





MASALAH sampah di Samarinda dan juga kota-kota lain di Indonesia sepertinya tidak pernah habis-habisnya, Selalu saja muncul dari hari-keharinya tanpa pernah putus. Berbagai metode penanganan sudah dicoba dan diterapkan, tetapi tetap saja tidak terselesaikan. Sampah berhamburan di jalan, di taman, dan parit serta sungai. Kenapa sampah berhamburan di tempat umum tetapi tidak di dalam rumah?

BEBERAPA
orang Samarinda sepertinya berpikir bahwa tempat umum adalah tempat milik bersama dimana semua orang bebas untuk berbuat apa saja tanpa ada yang melarang ataupun marah kalau dikotori. Pemikiran itu semakin menjadi-jadi dengan kenyataan bahwa mereka dipungut oleh pihak pemerintah kota di saat membayar rekening air minum PDAM, sehingga rasanya 'kurang sreg' kalau tidak memanfaatkan sebaik-baiknya petugas kebersihan itu.

Tidak dapat timbul perasaan kasihan si pembuang sampah kepada sesama manusia, bahwa sampah yang berhamburan ataupun menumpuk tidak pada tempatnya akan sangat mengganggu perasaan orang lain yang melihat ataupun mencium baunya, yang jika menumpuk di parit akan menyebabkan banjir bagi rumah yang lebih rendah, dan akan membuat petugas kebersihan kerepotan untuk mengambilnya.

Tidak dapat dipungkiri, sampah yang bertebaran di Kota Samarinda adalah sampah dari 'kemajuan zaman' seperti bungkus plastik makanan ringan, bungkus rokok dan puntungnya, botol dan gelas minuman, dan yang paling banyak adalah tas plastik 'kresek' yang begitu mudahnya untuk diperoleh buat membungkus semua yang bisa dibungkus, mulai dari barang-barang kering kecil hingga bubur ayam panas!

Yang membuang 'sampah kemajuan zaman' dengan sembarangan ini juga terdiri dari berbagai manusia Samarinda, dari anak kecil yang baru bisa belajar makan hingga orang tua, mulai dari profesi 'pengangguran' hingga kepada yang menganggap dirinya 'ahli lingkungan', mulai dari yang tidak bersekolah hingga mahasiswa! Sehingga sangat sulit kalau kebersihan itu dikatakan berhubungan dengan tingkat pendidikan, dimana semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik juga perilakunya dalam membuang sampah.

Perilaku buruk beberapa warga Samarinda sepertinya didukung pula dengan kurangnya fasilitas untuk penampungan sampah. Warga Samarinda yang berada di pelosok, seperti yang berada di jalan antara Samarinda dan Tenggarong, dengan rajinnya 'pamer sampah' di pinggir jalan dikarenakan tidak adanya bak sampah dan mobil sampah yang akan mengambil sampah mereka.

Sementara lain lagi dengan penduduk yang bermukim di hulu Sungai Karang Asam ataupun di hulu Sungai Karang Mumus. Dengan 'pintarnya' mereka membuang sampah ke sungai untuk menjadi 'pemandangan indah' di bagian hilir sungai yang justru tepat melalui tengah kota. Ketiadaan tempat sampah ini juga bisa kita lihat di perempatan Mall Lembuswana, baik di jembatan penyebarangan maupun di halte tempat menunggu angkot, tidak ada satupun tersedia tempat sampah. Makanya menjadi suatu pemandangan ironis, dimana terdapat baliho Bapak Walikota dengan ajakan untuk membuang sampah di tempatnya, justru di dalam parit di depan baliho itu ataupun di folder di belakang baliho itu bertebaran dengan 'indah' sampah dengan berbagai bentuk untuk menunggu dibersihkan (kalau sempat) atau hanyut disaat banjir.

Memang sulit untuk mengumpulkan sampah jika beberapa orang yang tak 'sopan' dalam membuang sampah itu menghamburkan sampahnya di semua tempat sesukanya. Mungkin sebaiknya petugas kebersihan tidak hanya melakukan razia seperti di tempat penumpukan saja dengan waktu dan tempat tertentu, tetapi dengan cara berpatroli dan denda di tempat kepada para pembuang sampah sembarangan seperti yang efektip dilakukan oleh petugas polantas terhadap pelanggar peraturan di jalan raya. Kalau hanya mengharapkan kesadaran warga saja, rasa-rasanya sulit untuk mencapai Kota Samarinda yang bersih dan bebas sampah, tanpa ada pengawasan yang efektip dan tindakan tegas dalam bentuk hukuman.

Di depan Kantor Gubernur di Jalan Gajah Mada saya ada lihat percontohan bak sampah untuk memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, seperti yang pernah saya lihat di Jepang. Memang ide yang bagus untuk memisahkan sampah, tetapi tidak didukung dengan mekanisme yang baik dalam pengumpulan dan pembuangannya.

Kalaupun sampah tadi telah dipisahkan sesuai dengan jenisnya, toh petugas kebersihan akan memungutnya dan mencampur-aduknya di mobil sampah, ataupun jika didahului oleh pemulung maka dialah yang bertugas mendaur-ulang dan mengaduk-aduk sampah tadi. Berbeda dengan di Jepang, hari pembuangan dan pengumpulan sampah dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Sampah berupa sampah mudah terbakar (moeru gomi) seperti sampah dapur dibuang oleh rumahtangga, kantor, ataupun sekolah, yang telah dibungkus rapi dikumpulkan 3 (tiga) kali dalam seminggu untuk selanjutnya diangkut  oleh petugas kebersihan kota ke incinerator untuk dibakar.

Sedangkan sampah berupa botol plastik, bahan gelas, kaleng dan sampah lainnya yang tidak terbakar (moenai gomi) yang juga telah dikemas rapi diambil sekali dalam seminggu oleh petugas kebersihan kota pada hari yang berbeda dan biasanya untuk didaur-ulang oleh kota ataupun perusahaan swasta. Selain itu, limbah berupa koran, majalah, dan kertas tua ditukar dengan tissue untuk toilet oleh pedagang kecil, mirip seperti pembeli yang datang bergerobak di tempat kita. Sampah elektronik tidak dibuang bebas, tetapi dengan membayar kepada perusahaan pendaur-ulang untuk mengambilnya langsung di tempat.

Pemulung, bank sampah, usaha kompos, ataupun pendaur-ulang untuk usaha kerajinan tangan memang dapat mengurangi sampah penduduk Kota Samarinda, tetapi biar bagaimanapun, dengan semakin beragamnya sampah serta volumenya yang semakin membesar sebagai akibat kemajuan zaman, maka perlu sekali Kota Samarinda untuk memikirkan dan merencanakan sistem pengolahan sampah secara modern, memiliki mesin yang dapat memisahkan jenis sampah, dan selanjutnya dapat memproses apakah menjadi energi terbarukan seperti rumah pendekomposisi untuk menghasilkan kompos dan gas metan untuk memasak, energi panas dari pembakaran sampah untuk menggerakkan generator listrik mini, ataupun menjadi bahan baku plastic ataupun logam.

KOMISI DPR

Pembagian Tugas Per Komisi DPR-RI

KOMISI I

Ruang Lingkup:
PERTAHANAN,INTELIJEN, LUAR NEGERI, KOMUNIKASI DAN INFORMASI

Pasangan Kerja:
1. Departemen Pertahanan
2. Departemen Luar Negeri
3. Tentara Nasional Indonesia
4. Departemen Komunikasi dan Informatika
5. Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas)
6. Badan Intelijen Negara (BIN)
7. Lembaga Sandi Negara (LEMSANEG)
8. Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA
9. Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)
10.Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
11.Televisi Republik Indonesia (TVRI)
12.Radio Republik Indonesia (RRI)
13.Dewan Pers


KOMISI II

Ruang Lingkup:
PEMERINTAHAN DALAM NEGERI DAN OTONOMI DAERAH,APARATUR NEGARA, AGRARIA DAN KOMISI PEMILIHAN UMUM (KPU)

Pasangan Kerja:
1. Departemen Dalam Negeri
2. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
3. Menteri Sekretaris Negara
4. Sekretaris Negara
5. Lembaga Administrasi Negara (LAN)
6. Badan Kepegawaian Negara (BKN)
7. Badan Pertanahan Nasional (BPN)
8. Arsip Nasional RI (ANRI)
9. Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Sekterariat Komisi II DPR RI berada di Gedung Nusantara II Lantai 2, diatas Bank Mandiri. Ruang Rapat Komisi II DPR RI berada di Ruang Rapat Komisi II DPR RI (KK.III)/Gd. Nusantara


KOMISI III

Ruang Lingkup:
HUKUM, PERUNDANG UNDANGAN, HAM DAN KEAMANAN

Pasangan Kerja:
1. Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia
2. Kejaksaan Agung
3. Kepolisian Negara Republik Indonesia
4. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
5. Komisi Ombudsman Nasional
6. Komisi Hukum Nasional
7. Komisi Nasional HAM (KOMNAS HAM)
8. Setjen Mahkamah Agung
9. Setjen Mahkamah Konstitusi
10.Setjen MPR
11.Setjen DPD
12.Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
13.Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN)
14.Komisi Yudisial


KOMISI IV

Ruang Lingkup:
PERTANIAN,PERKEBUNAN,KEHUTANAN, KELAUTAN, PERIKANAN DAN PANGAN,

Pasangan Kerja:
1. Departemen Pertanian
2. Departemen Kehutanan
3. Departemen Kelautan
4. Badan Urusan Logistik
5. Dewan Maritim Nasional

Selain pasangan kerja diatas beberapa unit usaha yang diberi tugas untuk Publik Service Obligation(tugas subsidi) seperti Inhutani,PT SHS dan PT Pertani dll


KOMISI V

Ruang Lingkup:
PERHUBUNGAN, PEKERJAAN UMUM,PERUMAHAN RAKYAT,PEMBANGUNAN PEDESAAN DAN KAWASAN TERTINGGAl, BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA, DAN BADAN SAR NASIONAL

Pasangan Kerja:
1. Departemen Pekerjaan Umum
2. Departemen Perhubungan
3. Menteri Negara Perumahan Rakyat
4. Menteri Negara Pembangunan Daerah Teringgal
5. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG)


KOMISI VI

Ruang Lingkup:
PERDAGANGAN,PERINDUSTRIAN,INVESTASI,KOPERASI UKM BUMN, STANDARISASI NASIONAL,

Pasangan Kerja:
1. Departemen Perindustrian
2. Departemen Perdagangan
3. Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah.
4. Menteri Negara BUMN
5. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)
6. Badan Standarisasi Nasional (BSN)
7. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)
8. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

KOMISI VII

Ruang Lingkup:
ENERGI SUMBER DAYA MINERAL,RISET DAN TEKNOLOGI,LINGKUNGAN HIDUP

Pasangan Kerja:
1. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
2. Menteri Negara Lingkungan Hidup
3. Menteri Negara Riset dan Teknologi
4. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
5. Dewan Riset Nasional
6. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
7. Badan Tenaga Nuklir (BATAN)
8. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETAN)
9. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL)
10.Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
11.Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas

KOMISI VIII

Ruang Lingkup:
AGAMA,SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

Pasangan Kerja:
1. Departemen Agama
2. Departemen Sosial
3. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan
4. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

KOMISI IX

Ruang Lingkup:
KEPENDUDUKAN,KESEHATAN,TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

Pasangan Kerja:
1. Departemen Kesehatan
2. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
3. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
4. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
5. PT. Jamsostek (Persero)

KOMISI X

Ruang Lingkup:
PENDIDIKAN,PEMUDA,OLAHRAGA,PARIWISATA,KESENIAN, PERFILMAN,KEBUDAYAAN, DAN PERPUSTAKAAN

Pasangan Kerja:
1. Menteri Pendidikan Nasional
2. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
3. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga
4. Perpustakaan Nasional
5. Badan Pengembangan Kebudayaan Pariwisata (BPBUDPAR)

KOMISI XI

Ruang Lingkup:
KEUANGAN,PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL,PERBANKAN DAN LEMBAGA KEUANGAN BUKAN BANK

Pasangan Kerja:
1. Departemen Keuangan
2. Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan/Kepala BAPPENAS
3. Bank Indonesia
4. Lembaga Keuangan Bukan Bank
5. Badan Peengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)
6. Badan Pusat Statistik
7. Setjen BPK RI

Jumat, 01 Juni 2012

Kondisi Geografis SulawesiTengah





Kondisi Geografis, Topografi, Geologi, Hidrologi dan Klimatologi




Provinsi Sulawesi Tengah terletak di bagian tengah Pulau Sulawesi, dengan luas wilayah daratan 63.305 Km2 atau 6.330.466,82 Ha. Luas wilayah daratan tersebut adalah ­36,47 persen dari luas Pulau Sulawesi.
Tabel 2.1
Pola Ruang Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Tengah (Ha)
NO
KAB/KOTA
APL
HSA
HL
HP
HPK
HPT
Perairan
1.
Palu
21.114,57
5.314,47
8.264,29
-
-
4.752,55
234,84
2.
Donggala
182.794,51
22.011,64
183.878,60
12.272,67
30.218,79
187.442,22
3.162,06
3.
Poso
199.715,78
126.939,15
134.433,95
33.058,78
28.557,89
187.888,95
38.979,16
4.
Tolitoli
132.834,62
31.841
38.327,33
51.743,26
3.149,36
86.728,25
779,32
5.
Banggai
284.073,65
17.429,08
178.771,85
51.028,19
63.999,89
311.949,42
2.330,10
6.
Buol
132.708,71
38.544,13
31.520,24
72.845,62
36.286,87
101.046
836,41
7.
Morowali
293.088,78
239.575,57
472.734,88
157.673,72
83.915,37
154.033,88
3.059,81
8.
Parigi Moutong
222.527,83
40.178,35
65957,79
113.484,11
18.337,83
163.018,82
2.224,41
9.
Banggai Kepulauan
175.562,42
-
40.283,30
34.034,52
18.173,40
51.529,57
-
10.
Tojo Unauna
138.666,48
7.304,56
148.221,91
57.332,58
10.933,85
124.753,61
1.743,09
11.
Sigi
120329,52
7.304,56
43.312,05
43.312,05
4.286,53
120.548,44
4.621,04
Sumber: Dinas PU Daerah, Draft RTRWP Sulteng Tahun 2010-2030
Luas perairan laut Sulawesi Tengah mencapai 193.923,75 Km2 dengan jumlah pulau sebanyak 1.140 pulau dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo;
- Sebelah Timur berbatasan dengan Propinsi Maluku dan Maluku Utara;
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Tenggara;
- Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar dan Propinsi Sulawesi Barat.
Secara administrasi, hingga Tahun 2010 Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas 10 Kabupaten dan 1 Kota yaitu Kabupaten Donggala, Poso, Tolitoli, Banggai, Buol, Morowali, Parigi Moutong, Banggai Kepulauan, Tojo Una-Una, Sigi dan Kota Palu yang terdiri atas 155 Kecamatan, 159 Kelurahan dan 1.656 Desa.
2. Letak dan Kondisi Geografis
Posisi astronomi Sulawesi Tengah terletak antara 2022’ Lintang Utara dan 3048’ Lintang Selatan serta 119022’ dan 124022’ Bujur Timur. Posisi Geostrategis Sulawesi Tengah berada di tengah wilayah nusantara dan di tengah pulau sulawesi, berada di lintasan koridor perairan dari utara ke selatan menuju lautan pasifik (Selat Makassar dan Laut Sulawesi).
3. Topografi
Berdasarkan Kemiringan lahan, dataran Sulawesi Tengah dirinci sebagai berikut:
- Kemiringan 0 - 3 derajat sekitar 11,8 persen;
- Kemiringan 3 - 15 derajat sekitar 8,9 persen;
- Kemiringan 15 - 40 derajat sekitar 19,9 persen;
- Kemiringan di atas 40 derajat sekitar 59,9 persen.
Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), dataran wilayah Sulawesi Tengah terbagi atas:
- Ketinggian 0 m – 100 m = 20,2 persen;
- Ketinggian 101 m – 500 m = 27,2 persen;
- Ketinggian 501 m – 1.000 m = 26,7 persen, dan
- Ketinggian 1.001 m ke atas = 25,9 persen.
4. Geologi
Struktur dan Karakteristik geologi wilayah Sulawesi Tengah didominasi oleh bentangan pegunungan dan dataran tinggi, yakni mulai dari wilayah Kabupaten Buol dan Tolitoli, terdapat deretan pegunungan yang berangkai ke jajaran pegunungan di Provinsi Sulawesi Utara. Di tengah wilayah Sulawesi Tengah yaitu Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong terdapat tanah genting yang diapit oleh Selat Makassar dan Teluk Tomini, selain itu sebagian besar merupakan daerah pegunungan dan perbukitan. Di selatan dan timur yang mencakup wilayah Kabupaten Poso, Tojo Unauna, Morowali dan Banggai, berjejer deretan pegunungan yang sangat rapat seperti Pegunungan Tokolekayu, Verbeek, Tineba, Pampangeo, Fennema, Balingara, dan Batui. Sebagian besar dari daerah pegunungan itu mempunyai lereng yang terjal dengan kemiringan di atas 45 derajat.
5. Hidrologi
Di sepanjang wilayah Sulawesi Tengah terdapat Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalir di wilayah kabupaten/kota. Selain daerah aliran sungai juga terdapat beberapa danau yang hampir seluruhnya berada di kawasan lindung.
Tabel 2.2
Wilayah Sungai Lintas Provinsi
No.
Nama WS
Nama DAS
Luas DAS (Ha)
Nama Kabupaten/Kota
1.
Palu – Lariang
Palu
3.043
Kab. Sigi / Kota Palu
Lariang

Kab. Sigi / Kota Palu
Watutela

Kota Palu
Pasangkayu

Kab. Donggala / Kab. Mamuju Utara
Mesangka
40,62

Surumba

Kab. Donggala
Sibayu


Tambu


2.
Pompengan-Lorena


Sulsel – Sultra – Kab. Morowali

3.
Lasolo – Sampara
Lasolo


Sampara

Lalindu
Sulsel – Sultra – Kab. Morowali
Aopa

Luhumbuti

Landawe

Amesiu

4.
Randangan


Gorontalo – Sulteng
5.
Kaluku - Karama


Sulbar - Sulteng
Sumber: Dinas PU Daerah, Draft RTRWP Sulteng Tahun 2010-2030
Tabel 2.3
Wilayah Sungai Strategis Nasional
No.
Nama WS
Nama DAS
Luas DAS (Ha)
Nama Kabupaten/Kota
1.
Parigi – Poso
Parigi- Poso
1.101,87
Kab.Parigi Moutong


Kab. Poso
Tompis
52,5
Kab. Poso
Bambalemo

Kab.Parigi Moutong
Podi

Kab. Poso / Kab.Tojo Una-Una
Dolago
125
Kab. Parigi Moutong
Tindaki
53
Kab. Parigi Moutong
2.
Laa – Tambalako
Laa
2.875,60
Kab. Poso
Tambalako
1045,6
Kab. Poso
Tirongan

Kab. Morowali
Salato
623,12
Kab. Morowali
Morowali
372,5
Kab. Morowali
Sumare
237,5
Kab. Morowali
Bahonbelu

Kab. Morowali
Bahodopi
246,87
Kab. Morowali
Sumber: Dinas PU Daerah, Draft RTRWP Sulteng Tahun 2010-2030
Tabel 2.4
Wilayah Sungai Lintas Kabupaten/Kota
No.
Nama WS.
Nama DAS
Luas DAS (Ha)
Nama Kabupaten/Kota
1.
Lambunu - Buol
Lambunu
279
Parigi Moutong
Buol
536
Buol
Lobu

Buol
Salumpaga

Tolitoli
Bangkir
85,6
Tolitoli
Ogoamas
48,3
Donggala
Silamboo
128
Donggala
Siraurang

Donggala
Sioyong
68,75
Donggala
2.
Bongka - Mentawa
Bongka
3.085
Tojo Una Una
Mentawa
150,63
Tojo Una Una
Sumber: Dinas PU Daerah, Draft RTRWP Sulteng Tahun 2010-2030
Tabel 2.5
Wilayah Danau Kawasan Lindung di Sulawesi Tengah
No.
Nama Danau
Luas (Ha)
Lokasi
1
Danau Poso
36.235,78
Kab. Poso (Kec. Pamona Utara dan Pamona Selatan)
2
Danau Lindu
3.428,49
Kab. Sigi (Kec. Kulawi)
3
Danau Rano
296,2
Kab. Donggala (Kec. Balaesang)
4
Danau Dampelas
542,56
Kab. Donggala (Kec. Dampelas)
5
Danau Batu Doka
14,162
Kab. Parigi Moutong (Kec. Moutong)
6
Danau Bulanungan
67.823
Kab. Parigi Moutong (Kec. Moutong)
7
Danau Deddi
8,42
Kab. Parigi Moutong (Kec. Moutong)
8
Danau Rannobal
514,5
Kab. Morowali (Kec. Bungku Utara)
9
Danau Rano Kodi
263,02
Kab. Morowali (Kec. Bungku Utara)
10
Danau Tiu
441,99
Kab. Morowali (Kec. Petasia)
11
Danau tambing
5,85
Kab. Donggala
12
Danau Patawu
71,1
Kab. Donggala
13
Danau Dawanga
24,53
Kab. Donggala
Sumber: Dinas PU Daerah, Draft RTRWP Sulteng Tahun 2010-2030
6. Klimatologi
Sebagaimana daerah lain di Indonesia, Kota Palu memiliki dua musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Musim panas terjadi antara Bulan April-September, sedangkan musim hujan terjadi pada Bulan Oktober – Maret. Hasil pencatatan suhu udara pada Stasiun Udara Mutiara Palu Tahun 2010 bahwa rata-rata suhu udara adalah 27,7°C. Suhu udara terendah terjadi pada Bulan Agustus yaitu sebesar 26,7°C, sedangkan bulan lainnya suhu udara berkisar antara 26,7-28,8°C. Kelembaban udara rata­rata tertinggi terjadi pada Bulan April yang mencapai 80 persen, sedangkan kelembaban udara terendah terjadi pada Bulan Juni dan Agustus yaitu 82 persen.
Tabel 2.6
Rata-rata Parameter Cuaca pada Stasiun Meteorologi
Mutiara Palu menurut Bulan Tahun 2010
No.
Bulan
Suhu Udara
(?C)
Tekanan Udara
(mb)
Kelembaban Udara
(%)
1.
Januari
27,4
10,115
76
2.
Pebruari
28,1
10,116
72
3.
Maret
28,7
10,113
70
4.
April
28,8
10,111
73
5.
Mei
28,2
10,094
79
6.
Juni
27,1
10,109
82
7.
Juli
27,1
10,106
80
8.
Agustus
26,7
10,109
82
9.
September
27,0
10,105
81
10.
Oktober
27,7
10,094
76
11.
Nopember
28,2
10,094
74
12.
Desember
27,6
1,008.0
75
Rata-Rata 2010
27.7
1008.0
76.7
2009
27.6
10,103
74.9
2008
26.6
10,104
79.0
Sumber: BPS Kota Palu, Kota Palu dalam Angka 2011.
Curah hujan tertinggi yang tercatat pada Stasiun Meteorologi Mutiara Palu Tahun 2010 terjadi pada Bulan Juni yaitu 123,0 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada Bulan Maret yaitu 11,7 mm.
Sementara itu kecepatan angin pada Tahun 2010 rata-rata 3,7 knots. Arah angin pada Tahun 2010 masih berada pada posisi yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu datang dari posisi utara.
Tabel 2.7
Keadaan Curah Hujan dan Hari Hujan
Menurut Bulan Tahun 2010
No.
Bulan
Penyinaran Matahari
(%)
Curah Hujan
(mm)
Kecepatan Angin
(Knots)
Arah Angin Terbanyak
1.
Januari
52
58.9
4
Utara
2.
Pebruari
72
32.1
4
Utara
3.
Maret
69
11.7
5
Utara
4.
April
63
80.2
4
Utara
5.
Mei
67
81.5
4
Utara
6.
Juni
70
123
3
Utara
7.
Juli
62
112.4
3
Utara
8.
Agustus
63
100.3
3
Utara
9.
September
71
144.3
3
Utara
10.
Oktober
62
66.6
3
Utara
11.
Nopember
63
44.2
4
Utara
12.
Desember
46
38.6
4
Utara
Rata-Rata 2010
63.50
-
3.7
Utara
2009
65.17
46.90
4.42
Utara
2008
54.25
79.09
3.55
Utara
Sumber : BPS Kota Palu, Kota Palu dalam Angka 2011.
Kota Palu beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim muson dengan curah hujan rata-rata antara 1.500 mm sampai dengan 4.000 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 12°C sampai 24°C dengan kelembaban antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau.